
Pentingnya pasokan listrik yang memadai menjadi aspek utama dalam operasional mobil listrik. Indonesia, dengan produksi listrik mencapai 36.968 Megawatt (MW) dan puncak penggunaan sekitar 33.247 MW pada Agustus 2019, memiliki kelebihan pasokan lebih dari 3.000 MW yang dapat digunakan untuk mendukung mobil listrik. Jakarta, ibu kota Indonesia, memiliki kapasitas total listrik konsumsi sekitar 12.000 MW, dengan puncak penggunaan masih sekitar 8.000 MW.
Penggunaan listrik untuk kendaraan bukan fenomena baru di Indonesia, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline, yang melayani 315 juta penumpang pada 2017, mulai beralih ke penggunaan kereta listrik. Jakarta juga telah mengoperasikan sistem Mass Rapid Transit (MRT) yang menggunakan kereta listrik. Meskipun MRT Jakarta masih lebih kecil dibandingkan KRL Commuterline, keduanya membutuhkan pasokan listrik yang memadai.
Selain pasokan listrik, ketersediaan stasiun pengisian daya menjadi pertimbangan penting lainnya. Meskipun jumlah stasiun pengisian daya di Indonesia masih terbatas, pemerintah berencana untuk meningkatkannya, terutama di Bali dan Jakarta. Menambah stasiun pengisian daya di jaringan stasiun bahan bakar milik Pertamina, yang mencapai lebih dari 7.400 di seluruh Indonesia, bisa menjadi langkah efektif.
Harga mobil listrik masih lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. Di AS, contohnya, Nissan Leaf, mobil listrik terlaris di dunia, memiliki harga sekitar $29.990, setara dengan sekitar Rp 420 juta. Di Indonesia, mobil listrik mendapatkan keringanan pajak, tetapi masih memiliki biaya tambahan dari importir umum, membuat harganya lebih tinggi.
Sumber: CFDS




